Oleh: kun744 | Juni 26, 2008

Tikus vs manusia

“Dasar kalian ini tidak berguna, apa saja kerjaan kalian hingga menangkap tikus saja tidak becus!” Suara itu terdengar bagaikan petir yang menyambar daun telinga para tikus yang sedang kebingungan mencari persembunyian.

“Itu mereka, cepat tangkap dan bunuh mereka semua.” Suara itu terdengar semakin garang.

“Baik Tuan Jon” beberapa pelayan semakin sibuk dengan tugas menangkap tikus yang meresahkan mereka.

di keluarga tikus sendiri …

“Mama aku takut” Rengek salah satu anak tikus.

“Sabar sayang, ayah pasti akan menjaga kita.” Ibu tikus mencoba menenangkan anak-anak nya

Gedubrak

Daaarrr

“Itu satu lagi ada di balik pintu. Cepat ringkus mereka” Teriakan itu mulai terdengar lagi.

“Ayah, apa kita tetap bertahan disini?” tanya ibu tikus kepada suaminya.

“Hem, kita akan terus melawan mereka. Kita harus berjuang sampai titik darah penghabisan.” Pak tikus menjawab sambil terus celingukan memperhatikan suasana, ia merasa sedikit kelelahan karena berlari kesana kemari, mencoba mencari tempat aman untuk keluarganya.

“Nah, kena kau”

“Aaaaa. Kurang ajar dia menggigitku.” seseorang berteriak kesakitan

“Cepat pukul dengan pentungan!.” teriak yang lain

“Ohhh tidak. ia mencoba kabur.”

“Lari lebih cepat sayang. Kesini, ibu ada disini.” Ibu tikus memberi arahan kepada anaknya yang sedang diburu manusia

“Ciiit. Ciit. Cit.” hanya itu yang terdengar

Kembali suasana riuh

“Ayo lari kesini nak, kerahkan semua kemampuanmu!”. Ayah tikus kembali menyemangati anaknya.

dan

Bruuuukk. “Kena kau tikus sialan!” terdengar sebuah pukulan dan akhirnya terdengar tawa yang menyiksa batin keluarga ibu tikus.

Ibu tikus kembali memeluk anak-anaknya yang barada disisinya sambil memandang suaminya. Tetes demi tetes air matanya tumpah, seiring dengan darah yang semakin mengoori lantai keramik itu. Rupanya seekor dari anak mereka tidak mampu diselamatkan, ia terlalu lamban dan kebingunga. Akhirnya Tuan Jon berhasil membunuhnya dengan sebuah pentungan dari kayu. Suara hiruk pikuk mulai reda, namun belum berarti perang ini berakhir.

Setelah satu jam mengalami ketegangan, para manusia pun beristirahat sejenak. sesekali terdengar suara tawa mereka dan juga cercaan-cercaan yang sungguh menyakitkan hati keluarga kus-kus tikus penghuni rumah Pak Joni Jumbret.

Setiap hari selalu saja terjadi pembunuhan. Yaa inilah yang membuat pilu hati bu tikus, ia merasa cemas bila satu -persatu anaknya menjadi korban keganasan manusia. Ia merasa sudah tidak aman lagi tinggal di rumah Pak Jon. Namun apa daya, suaminya berkeras hati untuk tetap mendiami rumah ini. Ia merasa bahwa harga dirinya terlalu mahal untuk sekedar menjadi pelarian. Ia merasa bahwa bertahan adalah cara terbaik daripada mencadi bahan ocehan keluarga tikus yang lain. Dan keinginannya adalah melawan manusia jahat yang sudah berkali-kali membunuh anak-anaknya. Entah sudah berapa nyawa yang terbunuh, dan ia ingin membalaskan dendam mereka.

Sejenak saja ia membayangkan kengerian yang baru saja dialami anaknya, ibu tikus berteriak lantang pada manusia-manusia itu.” Kalian benar-benar jahat, kalian pembunuh anak-anakku”.

Tapi namanya juga manusia, mana bisa mendengar suara bu tikus apalagi manusia kan tidak bisa bahasa tikus.

“Ayo kita cari yang lain, sepertinya masih ada di pojok ruang makan.” kembali suara pak Jon memberikan komando.

“Nah itu dia, rupanya mau mencari mati dia. Bah”

Bruuukk

Klontang, suara perabot saling berjatuhan dari raknya.

“Aduh, mau kamu apakan dapurku?” Suara wanita itu memekakkan telinga. Ia merasa bahwa areanya sudah diganggu oleh suaminya.

“Kau tidak lihat ada tikus disini?”

“Memangnya kenapa dengan tikus-tikus itu. Kau hanya merusak barang-barangku saja.” Bu jon kembali membalas suaminya.

“Kamu tahu tidak, mereka sudah menghabiskan dagangan kita. Aku bisa rugi besar”. Mereka saling bertengkar

Tal lama ibu Jon melihat seekor tikus, dan ia membelalakkan matanya. Ia jingkrak-jingkak dan berlari kesana-kemari. Sikapnya justru membuat tertawa semua orang yang melihatnya.

“Dasar kurang ajar, cepat tangkap mereka” pak Jon berteriak lagi, menyuruh anak-buahnya segera membunuh tikus tersebut. sedang bu Jon masih saja berteriak-teriak sambil berlari-lari.

“Tangkap tikus sialan itu, dan jangan rusak perabotanku!” bu Jon kembali berteriak memberikan perintah kepada pelayannya.

Ibu tikus kembali tertunduk lesu, dia merasa sedih karena musuhnya bertambah satu yaitu bu Jon. Rupanya wanita itu tak jauh lebih baik dari suaminya. Pantas saja jika mereka tidak dikaruniai anak satupun. Mungkin karena Tuhan merasa bahwa mereka tidak bisa menyayangi makhluk hidup seperti mereka, makanya Ia tidak memeberi anak dalam kehidupan mereka. Ibu tikus masih tetap terdiam, berharap akan ada cara jitu agar mereka bisa melewati peperangan ini dengan baik.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori