Saat kembali membuka mata, rasanya otak ini mulai berfungsi dengan ketajamannya. Dan segera kubuka lebar mata ini. Kauayunkan kaki menuju tempat sesuai dengan permintaan akal.
Rasanya mulai tak ada gairah lagi, begitu sendu dan kurang tenaga. Rupanya ini akibat perut yang mulai tak kuat menahan derita kelaparan sepanjang malam. Huuh … benar-benar tak bisa diajak kompromi.
Cuma ada nasi …
Mana lauknya, pekikku dalam hati. Mana enak pagi-pagi makan nasi putih tanpa ada pelengkap.
Mataku mulai menangkap sinyal cerdik dari otak. Melirik ke kanan dan kekiri, melihat-lihat apakah ada sesuatu di pojok dapur yang bisa kujadikan pelengkap makan pagi ini. Tak tampak apapun juga … rupanya mata ini tak mampu memberikan jawaban pasti. Pandangannya masih terbatas … seolah rasa lapar ini membuatnya tak bisa berkonsentrasi penuh.
Lalu kucoba mengingat, beberapa daftar belanjaan yang seharusnya masih ada dan tentu saja masih ada beberapa sisa. Hem … rupanya benar adanya, masih ada cabe, bawang, dan telur. Lumayan juga pikirku kemudian.
Sepintas hanya ingatan tersamar ini yang memberikan jawaban, tak apalah … seharusnya bisa untuk mengganjal perut.
Kaki tanganku mulai berayun, bergerak dengan tangkas seperti sudah di skenario oleh otak untuk sesegera mungkin menyelesaikan tugas yang diberikan. Memberikan energi untuk mengisi tubuh … dan perut ini semakin tak bisa diajak kompromi.
Mata semakin teduh … bahkan separuh jiwaku melayang entah kemana. Untungnya otak ini masih memiliki sedikit energi untuk memacu tangan agar cepat menyelesaikan tugasnya. Segera dan tanpa berlama-lama.
Senyumku mulai mengembang kala yang diharapkan telah ada. Sepiring nasi goreng ala kadarnya dan dengan bumbu seadanya siap disantap juga. Rasanya perut ini makin tak sabar juga … dan dengan segera mulut ini menganga bak gua yang telah siap untuk melahap apa saja. Ha … ha … ha … sedikit demi sedikit kuhabiskan juga. Dan mata ini mulai terbuka selebar-lebarnya. Rasanya pasokan energi mulai naik dan menjejalnya.
Huuh … sangat romantis sekali. Raga ini telah kembali seperti sedia kala. Dimana kelaparan tak lagi melanda dan yang jelas mata ini sudah tak samar lagi untuk melihat sekelilingnya. Langkahku pun mulai pasti …
Segera kumelangkah dari tempatku berada saat ini. Bergegas menyiapkan diri untuk kembali beraktifitas seperti hari-hari sebelumnya. Dan mengawali hari ini dengan episode baru dalam skenario hidupku.
