Oleh: kun744 | Juni 17, 2008

Fatamorgana

Pandanganku tertuju pada induk ayam yang tengah asyik mengais makanan. Ia tampak begitu gigih seolah akan menemukan secuil makanan yang hendak diberikan pada beberapa ekor anaknya. Rasanya benar-benar induk yang baik … selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya.

Sekilas induk itu mengeluarkan suara, entah apa maksudnya namun begitu jelas ia bersuara. Aku sendiri benar-benar miris melihat keadaan yang demikian. Sungguh hanya seekor ayam namun mampu menjadi sebuah contoh yang patut untuk diteladani.

Kucoba mengalihkan pandanganku pada sekelompok burung gereja yang sibuk dengan kicauannya. Suaranya yang riuh memberikan arti bahwa mereka sedang bergembira, seolah tanpa ada duka dalam kehidupan mereka.

Kicauannya adalah lagu bagi alam ini…
Sayapnya yang kecil dan mungil memberikan keindahan tersendiri pada lukisan alam. Ia lebih senang bertengger dan berkerumun mencari makanan sambil beterbangan kesana kemari. Tak lupa dengan jungkir baliknya … layaknya pemain akrobat yang tengah mengudara di angkasa. Sedikit memberikan rasa iri padaku yang tak bisa berbuat apa-apa.

Inginnya aku menyapa mereka. Alam yang dipenuhi dengan segala keindahannya, begitu banyak keceriaan di luar sana. Namun rasanya semua itu hanyalah fatamorgana bagiku. Aku benar-benar tak bisa menggapainya. Hanya lamunanku saja yang bisa terbang mencarinya … namun raga ini terasa tidak mungkin bisa menggapainya.

***

Tertawa. Aku ingin sekali seperti dahulu, bisa tertawa dan merasa bahagia. Aku sudah lelah dengan segala tangis dan duka di dada. Rasanya air mata ini sudah bosan untuk terus dikeluarkan. Benar-benar sesuatu yang sudah lama aku lupakan … dan kini semua itu hanya menjadi sebuah impian. Impian yang entah kapan bisa aku rengkuh kembali.

Mataku pun mulai tak jelas memandang, terasa berat dan sedikit pedih. Mungkin akibat terlalu sering menangis sehingga menjadikannya terganggu. Setiap kucoba untuk berkaca dan disana kutemukan sosok yang lusuh dan tanpa daya. Mata merah dengan pandangan kosong, bibir yang mulai pecah-pecah dan kulit muka yang tampak kusam karena lama tidak dirawat. Rambut panjang tergerai tanpa aturan menambah buruk dan terkesan kumuh.

“Inikah diriku yang sekarang”. Bisikku kemudian.

Aku tak ada bedanya dengan para gelandangan di jalanan. Benar-benar tak terawat dan tak lagi memberikan kesan menarik. Sungguh perubahan yang sangat ironis. Aku yang sekarang bukanlah seorang yang layak untuk dipandang, bahkan tak layak untuk sekedar dibicarakan. Aku seperti seonggok daging yang tak bernyawa … benar-benar tanpa jiwa yang hidup di dalamnya.

Aku sendiri sudah lupa. Lupa akan gairah hidup yang dahulu pernah mengisi disetiap relung jiwaku. Semangatku yang dulu berapi-api dan terus membara kini telah padam. Sekilas memang sangat memunculkan banyak pertanyaan. Karena orang yang tahu keadaanku sekarang mungkin akan lebih senang bila tidak tahu nasibku saat ini. Lebih baik mereka mengenangku pada sosokku yang dahulu daripada melihat diriku yang sekarang. Aku sendiri tak kuat bila harus bertatapan dengan wajah-wajah itu. Rasanya aku benar-benar bagai sampah yang tak layak bersanding dengan mereka. Aku hanya akan membuat kotor bagi siapapun yang memandang mereka. Aku ini hina dan tak lagi sempurna.

***

Hari ini aku menangis lagi. Air mataku tumpah tanpa ada yang memintanya. Ini adalah hal yang sering terjadi di hari-hariku … dimana aku habiskan dalam penjara hidupku. Aku yang tak lagi berjaya dan tak lagi punya daya. Dengan tubuh cacat ini siapa yang akan mengenaliku. Namun sebanyak apapun air mata yang aku tumpahkan, tak akan bisa merubah setiap baris dari kisahku yang teramat suram. Dan setiap hari, aku hanya menanti datangnya ajal diatas pembaringan. Yang hingga kini tak muncul dan segera menjemputku.

Tangisku mulai menjadi ketika kupandang sosok tubuh kurus yang telah berada dihadapanku. Ia yang senantiasa setia menemaniku, yang selalu memberikan semangat untuk terus hidup lebih baik. Namun aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu. Setiap kedatangannya adalah awal kebencianku memuncak dan setiap semangat yang ia berikan justru menjadi pemicuku agar segera lenyap dari kehidupan ini. Aku ingin dia tidak ada di hadapanku lagi. Aku ingin dia pergi dan meninggalkanku.

Ia hanya diam membisu. Mencoba menawarkan makanan dan segelas susu, dengan kelembutannya ia mengharap aku mau menelan makanan tersebut.

“Sebaiknya kau pergi. Dan jangan perdulikan aku lagi.”

Ia diam. tak ada jawaban yang keluar dari bibirnya yang indah itu.

“Cepat pergi!” Aku membentaknya. tapi raut wajahnya tetap tenang.

“Kenapa kau ingin aku pergi?”

“Karena aku tidak mau kau meremehkanku. Aku tidak mau melihat pandanganmu yang tampak bodoh itu. Aku tidak mau kau mengasihaniku!”

Emosiku mulai naik. Dan ia mulai memahami setiap kata-kataku. Dengan langkah pelan dia mulai meninggalkanku, dan aku yang kini kembali sendiri tak berharap ia akan kembali lagi.

“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu Wina. Kau sendiri tahu … hanya kau yang ada di hatiku”.

Aku kembali menangis. Mengharap semua ini hanyalah fatamorgana. Bagiku kehidupanku telah berakhir, dan kisahku hanyalah penantian dari ketidak pastian. Dan semua yang terjadi sudah cukup memberikan arti yang dalam padaku. Aku hanya bisa pasrah pada nasib yang akan membawaku. Dan semua yang telah lalu … kini tinggal kenangan yang tak lagi ingin aku ingat kembali.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori